Manusia adalah salah satu dimensi penting dalam organisasi. Kinerja organisasi sangat tergantung pada kinerja individu yang ada di dalamnya. Seluruh pekerjaan dalam perusahaan itu, para karyawanlah yang menentukan keberhasilannya. Sehingga berbagai upaya meningkatkan produktivitas perusahaan harus dimulai dari perbaikan produktivitas karyawan. Oleh karena itu, pemahaman tentang perilaku organisasi menjadi sangat penting dalam rangka meningkatkan kinerjanya.Karyawan sebagai individu ketika memasuki perusahaan akan membawa kemampuan, kepercayaan pribadi, pengharapan-pengharapan, kebutuhan dan pengalaman masa lalunya sebagai karakteristik individualnya. Oleh karena itu, maaf-maaf kalau kita mengamati karyawan baru di kantor. Ada yang terlampau aktif, maupun yang terlampau pasif. Hal ini dapat dimengerti karena karyawan baru biasanya masih membawa sifat-sifat karakteristik individualnya.
Selanjutnya karakteristik ini menurut Thoha (1983), akan berinteraksi dengan tatanan organisasi seperti: peraturan dan hirarki, tugas-tugas, wewenang dan tanggung jawab, sistem kompensasi dan sistem pengendalian. Hasil interaksi tersebut akan membentuk perilaku-perilaku tertentu individu dalam organisasi. Oleh karena itu penting bagi manajer untuk mengenalkan aturan-aturan perusahaan kepada karyawan baru. Misalnya dengan memberikan masa orientasi.
Perilaku Organisasi
Pada tingkat individu, jika pegawai merasa bahwa organisasi memenuhi kebutuhan dan karakteristik individualnya, ia akan cenderung berperilaku positif. Tetapi sebaliknya, jika pegawai tidak merasa diperlakukan dengan adil, maka mereka cenderung untuk tidak tertarik melakukan hal yang terbaik (Cowling dan James, 1996) Untuk itu, ketika seseorang mempunyai ketertarikan yang tinggi dengan pekerjaan, seseorang akan menunjukkan perilaku terbaiknya dalam bekerja (Duran-Arenas et.al, 1998). Selanjutnya menurut Cowling dan James, tidak semua individu tertarik dengan pekerjaannya. Akibatnya beberapa target pekerjaan tidak tercapai, tujuan-tujuan organisasi tertunda dan kepuasan dan produktivitas pegawai menurun.
Di lain pihak, organisasi berharap dapat memenuhi standar-standar sekarang yang sudah ditetapkan serta dapat meningkat sepanjang waktu. Masalahnya adalah cara menyelaraskan sasaran-sasaran individu dan kelompok dengan sasaran organisasi; dan jika memungkinkan, sasaran organisasi menjadi sasaran individu dan kelompok. Untuk itu diperlukan pemahaman bagaimana orang-orang dalam organisasi itu bekerja serta kondisi-kondisi yang memungkinkan mereka dapat memberikan kontribusinya yang tinggi terhadap organisasi.
Belajar dari Vroom
Menurut Teori Pengharapan, perilaku kerja merupakan fungsi dari tiga karakteristik: (1) persepsi pegawai bahwa upayanya mengarah pada suatu kinerja (2) persepsi pegawai bahwa kinerjanya dihargai (misalnya dengan gaji atau pujian) (3) nilai yang diberikan pegawai terhadap imbalan yang diberikan. Menurut Vroom’s expectancy theory, perilaku yang diharapkan dalam pekerjaan akan meningkat jika seseorang merasakan adanya hubungan yang positif antara usaha-usaha yang dilakukannya dengan kinerja (Simamora, 1999). Perilaku-perilaku tersebut selanjutnya meningkat jika ada hubungan positif antara kinerja yang baik dengan imbalan yang mereka terima, terutama imbalan yang bernilai bagi dirinya. Guna mempertahankan individu senantiasa dalam rangkaian perilaku dan kinerja, organisasi harus melakukan evaluasi yang akurat, memberi imbalan dan umpan balik yang tepat.
Seperti terlihat pada Contoh Organisasi Yang Kreatif "Apple":
Di luar Linux, ada organisasi bidang teknologi informasi yang juga mengandalkan kreativitas. Berawal dari ide kreatif, lalu berakhir sebagai industri besar sampai hari ini. Semangat organisasi para pengembang serta pecinta produknya sulit ditumbangkan. Bagian terakhir dari dua tulisan.
Apple adalah suatu misteri, dan akan selalu menjadi misteri. Berkebalikan dengan Linux, yang menerapkan sistim sosialisme, Apple menerapkan, bukan kapitalisme, namun apa yang disebut sebagai ‘kultus misteri’. Beberapa saat sebelum Macworld, selalu beredar isu, bahwa apple akan meluncurkan produk ini atau itu. Ada kalanya isu itu terbukti, ada kalanya tidak. Namun, isu-isu tersebut menjadikan Apple menjadi suatu organisasi yang misterius.
Kabar sakitnya Steve Jobs akhir-akhir ini, justru memperkuat aura misteri tersebut, sebab para pengamat hanya bisa menerka-nerka apa sebenarnya penyakit Jobs dan separah apa. Jobs hanya memberikan keterangan seadanya mengenai kondisi kesehatan dia. Namun, justru hal ini yang membuat semakin banyak orang yang penasaran terhadap produk apple, dan tertarik untuk membelinya.
Selama puluhan tahun sampai sekarang, platform macintosh adalah platform dominan dalam creative industry. Seniman, DJ, Adviertiser, Creative content menjadikan macintosh sebagai platform mereka. Aplikasi-aplikasi penting di dunia creative content, seperti Adobe Photoshop, pertama kali dikembangkan untuk platform macintosh. Produk Apple MacBook air menjadi laptop favorit para DJ, sebab mudah dibawa kemana-mana, oleh para DJ yang memang mobile. Dua buah gadget buah tangan Apple, yaitu iPod dan Iphone, menjadi best seller di seluruh dunia. Bahkan pengguna sistim operasi lain pun dengan senang hati menggunakan iPod dan iPhone, disebabkan oleh fitur mereka yang memang outstanding dan mudah digunakan.
Kultus
Produk Apple selalu digemari, sebab memang terkenal handal, dan mudah digunakan. Di masa lalu, Apple selalu terkenal sebagai perusahaan yang selalu memproduksi komputer-komputer mahal. Namun sekarang tidak demikian. Harga sebuah komputer mac, sangat kompetitif jika dibandingkan dengan sebuah PC. Berbeda juga dengan masa lalu, sekarang komputer mac dapat menjalankan Windows dan Linux secara native.
Kultus misteri dalam Mac, bisa dirangkum dalam sebuah sinisme yang disebut sebagai ‘reality distortion field’ (RDF). RDF merupakan sindiran seorang praktisi TI terhadap Steve Jobs, sebab Jobs mampu mempengaruhi siapapun yang menghadiri presentasinya dengan sangat baik. Terlepas dari sinisme tersebut, alhasil gaya presentasi Jobs, yang sederhana, powerful, namun tetap artistik akhirnya banyak ditiru oleh presenter lain, dengan rekontekstualisasi masing-masing.
Di kalangan tertentu, memang mudah melihat kehadiran Apple. Di masa lalu, jika kita jalan-jalan ke mall dan nongkrong di cafe manapun di Indonesia, akan sangat jarang melihat pemakai laptop mac. Mayoritas laptop PC. Namun jaman sekarang, pemakai mac sudah semakin banyak, dan mereka tidak ragu untuk menunjukkan identitasnya, dengan mebawanya ke Cafe, misalnya. Hadirnya gadget yang harganya terjangkau namun handal, seperti iPhone dan iPod, membuat produk Apple semakin digemari.
Kredo Kesaksian dan Keselamatan: Moralitas dalam Organisasi
Kedua organisasi tersebut memiliki persamaan dalam mengembangkan dirinya, yaitu adanya semangat religius. Pertama, mengenai kredo kesaksian, kedua organisasi memiliki persamaan, yaitu para user memberikan kesaksian bahwa mereka berpindah dari sistim operasi yang lama, ke sistim operasi baru. Cenderung kesaksian yang mereka berikan bernada sama, yaitu sistim operasi yang lama itu kurang bagus, sementara yang baru jauh lebih bagus, tentu dengan alasannya masing-masing. Fenomena ini sangat mirip dengan konversi agama, dimana ada beberapa kasus agama lama dikritisi habis, sementara agama baru dipuji-puji. Kedua, dalam masing-masing organisasi diberikan panduan yang jelas, bahwa untuk menyelesaikan masalah, ada tata cara yang sebaiknya diikuti. Dalam kasus Linux, hal ini memang tidak terlalu jelas, sebab organisasi yang tersentralisasi tidak ada dalam Linux. Namun, dalam kedua organisasi tersebut sangat ditekankan, bahwa cara mereka adalah yang terbaik dalam menyelesaikan permasalahan. Jadi ada pandangan manichean, dimana mereka adalah yang terbaik, diluar mereka adalah tidak demikian. Mirip dengan konsep keselamatan dalam agama, dimana jika kita percaya terhadap dogma agama tersebut, maka kita masuk surga. Jika tidak, maka akan masuk neraka. Moralitas dalam hal ini sudah terdefinisikan dengan sangat jelas, dimana solusi yang terbaik adalah solusi mereka. Terlepas dari kredo kesaksian dan keselamatan yang mereka gunakan itu baik secara moral atau tidak, namun hal ini sangat efektif dalam memompa semangat fanatisme dan ‘nasionalisme’ terhadap organisasi tersebut. Kedua organisasi tersebut sudah menunjukkan contoh yang sangat baik, dimana setiap anggota organisasi sangat loyal terhadapnya. Semangat religius yang dipompakan tersebut, mampu memperluas daerah pengaruh organisasi.
Sumber Referensi:
http://www.macworld.com
http://www.apple.com
http://cokroaminoto.blogetery.com
http://netsains.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar